Government-Led digital transformation in FinTech ecosystems
Di dalam penelitian ini, P.K Senyo, Stan Karanasios, Elikplimi Komla Agbloyar, dan Jyoti Choudrie menjelaskan bagaimana pemerintah mengupayakan transformasi digital dalam konteks keterbatasan sumber daya. Aspek khas dari penelitian mereka, dibandingkan dengan penelitian lain mengenai transformasi digital (misalnya, Aguerre & Bonina, 2023; Datta, 2020; Pelletier & Taymond, 2020) di sektor publik, adalah konsep strategi percabangan digital. Mereka berfokus pada bagaimana pemerintah, melalui lembaga-lembaganya, memanfaatkan kemampuan digital yang ada, untuk mengembangkan inovasi di bidang yang belum dipetakan. Mereka mengeksplorasi keseimbangan rumit yang harus dicapai pemerintah dan kesulitan yang harus diatasi agar dapat meluncurkan inisiatif digital baru secara efektif, terutama ketika sumber daya dan infrastruktur masih terbatas.
(Gambar 1)
Berdasarkan temuan
mereka, mereka mengartikulasikan model proses yang menggambarkan bagaimana
transformasi digital yang dipimpin oleh pemerintah dapat terlaksanakan. Model
mereka menunjukkan bahwa transformasi tersebut dipicu oleh kondisi politik negara
tertentu (Gambar 1). Dalam penelitian mereka, pemicunya adalah strategi pembangunan
nasional dan agenda ekonomi digital, yang bertujuan untuk mengatasi
permasalahan sosial seperti kesenjangan, eksklusi finansial, dan kesulitan yang
dihadapi oleh usaha usaha kecil informal. Pendekatan mereka ini juga merupakan
respons terhadap kegagalan upaya-upaya yang dilakukan sebelumnya dan tidak
adanya solusi dari sektor swasta, sehingga menciptakan kekosongan kelembagaan.
Menanggapi kondisi ini, pemerintah menerapkan strategi yang menyeimbangkan
inovasi hemat dengan pemanfaatan sumber daya yang ada dalam ekosistem FinTech.
Penelitian mereka menunjukkan bahwa praktik-praktik ini tidak hanya saling berhubungan namun juga saling memperkuat. Misalnya, ketika mencari solusi QR yang sesuai dan berhasil di negara lain, keterbatasan kecocokan mengharuskan mereka untuk memprioritaskan penghematan melalui pemanfaatan sumber daya di ekosistem FinTech, serta menyesuaikan solusi dengan kenyataan yang dihadapi oleh pedagang dan pelanggan mereka. Hal ini tidak berarti “cheap”,”low cost”, or “low quality”, melainkan merupakan perwujudan serangkaian prinsip yang berfokus pada pemanfaatan sumber daya secara efisien. Strategi ini merupakan perubahan pendekatan yang signifikan menyusul kegagalan upaya pemerintah dalam menerapkan sistem POS yang mahal dan tidak sesuai dengan konteks lokal. Pengalaman ini mendorong pemerintah untuk menerapkan strategi yang lebih hemat, dengan memilih solusi hemat biaya seperti menggunakan kertas A4. (Oleh Fauzia Fibrianti Purnama Dita)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar